Agustus 29, 2017

Latar Belakang

Denganku atau tidak kau masih menjadi inspirasiku berkarya
Pada tiap puisiku kau adalah nyawa
Pada tiap katanya kau adalah makna
Dan ini harus, silakan bahagia

Segala sesal yang kurasa bukanlah putus asa
Aku hanya merasa gagal menjadi alasanmu bahagia
Tak mengapa, karena bahagiamu bahagiaku
Senyummu senyumku

Tak usah risau
Sesapi kopi dan tidurlah
Bersamanya adalah pilihan kau
Sesakku tak usah kau anggap masalah

Aku hanya butuh hari-hari baru
Untuk kemudian melupakan mimpi memilikimu
Termasuk sekarang, rasa sakit yang kau beri adalah inspirasi
Untuk membuat puisi yang sesendu ini

Ah, omong kosong saja
Ini puisi biasa
Tak perlu kau baca
Aku baik-baik saja

Ah, ada baiknya juga ternyata
Setelah hari itu, ternyata aku makin menemukan siapa diriku
Memiliki banyak waktu untuk meniti jalanku
Terimakasih, dan semoga keberkahan meliputimu selalu

Dan dengan pasanganmu pastinya

(Depok: 03.44)

Agustus 27, 2017

Simfoni Hubungan Jarak Jauh

Apa yang lebih indah dibanding saling merindukan?
Adalah sebuah pertemuan
Ketika jarak dan waktu memisahkan dua insan
Apalagi yang dapat mengalahkannya selain kekuatan saling mendoakan?

Karenanya, kamu harus percaya dengan campur tangan Tuhan
Segala yang kita dapatkan adalah buah dari Dia yang memberikan
Sebuah kado termanis untuk kita sekalian
Pasangan yang sama-sama saling menguatkan

Tak perlu iri hati dengan pasangan yang tiap hari bertemu
Capailah dahulu apa yang ingin kamu dan aku tuju
Percayalah, dari kejauhan aku sedang berjuang bukan sedang melakukan pelarian
Untuk mendapatkan semuanya dan memberikanmu senyuman dalam pertemuan

Semua akan menjadi sangat berarti
Tidak perlu terus menerus mencari
Ini soal bahagia yang akan aku beri
Saat tiba waktu yang kita nanti

Jangan merasa aku hilang
Aku selalu ada pada tiap degup jantungmu
Pada tiap bulir darahmu
Pada tiap hela nafasmu

Tengadahlah
Kau akan menemukan sesuatu yang ajaib
Ternyata kita tak terlalu jauh
Buktinya, langit yang kita pandang masih saja sama

Yang penting ragamu tetap ada di bumi
Dan kasihmu tetap ada di hati ini
Indah bukan? Ketika kita saling merindu
Saling berharap temu

Ternyata, doa kita terus menerus mengetuk pintu

(Depok: 01.15)

Agustus 18, 2017

Kenapa Masih Saja?

Aku masih merindukanmu
Percayalah mungkin akan selalu
Bukan perkara mudah untuk menghilangkanmu
Dari pikiranku apalagi hatiku

Kau sudah masuk terlalu jauh
Aku tak tau bagaimana cara mengeluarkanmu
Meski harus sampai darah jadi peluh
Aku belum juga bisa mengahapusmu

Banyak kawan coba menghiburku
Aku tertawa, namun tetaplah getir yang kurasa
Ingin sekali rasanya untuk cepat-cepat melupakanmu
Namun malah semakin ingat saat kucoba

Untuk hal ini kalau mencari pasangan baru adalah obat
Aku sepertinya tidak butuh itu
Aku hanya butuh bersamamu
Kalau perlu sampai kiamat

Untuk sekarang, silakan kau bahagia bersamanya
Namun jika Tuhan menakdirkan kita untuk bersama
Berbagi suka, duka, canda tawa juga cerita
Sayang, kau bisa apa untuk melawan kuasa-Nya?

(Depok: 01.22)

Agustus 15, 2017

Akankah Kita Akan Bersama

Sekarang atau nanti kurasa sama saja
Itu hanya soal waktu yang tepat kurasa
Sampai detik ini, aku masih menganggap aku istimewa
Di hidupmu tentu saja, meski yang menang adalah dia

Aku masih bermimpi bisa berbagi setiap tawa dan canda padamu
Menghabiskan bensin untuk bisa berdua denganmu
Menemanimu mencari buku kesayanganmu
Atau hanya untuk berbicara ringan di ruang tamu rumahmu

Akankah kita dapat bersama?

Kapanpun aku siap menunggu
Aku sedang memantaskan diriku
Yang aku yakin lebih baik darinya
Untuk menjagamu dari kerasnya dunia

Atau aku hanyalah pemimpi tak tau diri?

Kalau memang demikian
Biarlah,
Kurasa mimpi tak pernah salah
Perihak terwujud atau tidak biarlah semua kuasa Tuhan

Aku akan terus berdoa agar suatu saat kita dapat bersama
Untuk terus bercengkrama
Seperti kata ayahku:
Kurasa Tuhan lebih kuasa dari padamu

Agustus 13, 2017

Menunggu

Karena semua manusia mempunyai naluri untuk diakui
Tanpa terkecuali
Maka dari itu, mulai sekarang kau harus mencari
Pekerjaan apa yang harus kau lakukan untuk lalu dipuji

Kalau aku memilih pekerjaan:
"Sabar"

(Depok: untuk penyeimbang isi blogku)

Pemberianmu

Sungguh, rasanya seperti diledakkan oleh bom atom milik sekutu
Seperti dicabik-cabik anjing tetanggaku
Seperti diterjunkan dari atap rumahmu
Seperti kehilangan satu buah jemariku

Malam ini, maafkan aku jika aku ingin terus menulis soalmu
Menulis untukmu
Untuk perasaan sesak yang kau tanamkan dalam hati ini
Menghujam tak karuan jantung ini

Kenanglah semua sakit yang telah kau berikan padaku malam ini!

(Depok: Adzan subuh di telinga per tanggal 13/08/2017)

Ternyata Aku Benar-benar Jatuh Hati Padamu

Biar kuberitahu rahasiaku:

Tak sering hatiku meringis apalagi menangis
Hanya beberapa kali
Malah sepertinya tidak pernah karena cinta
Namun kali ini benar-benar sakitnya amat terasa

Aku serius

(Depok: 04.27)

Sesak

Sesaknya makin terasa dalam batinku
Saat tak sengaja kulihat foto kalian mesra bercumbu
Aku pernah menyalahkanku ketika membuat orang lain sesak
Sekarang aku menyalahkanmu karena membuatku sesak

Hidup memang terus berputar, kan?

Anehnya aku tertawa getir untuk kali ini
Semoga kalian bahagia
Takkan mudah sepertinya menghapus sesakku kali ini
Karena aku sudah memilihmu, tapi pilihanmu bukanlah aku

SIALAN!

Kau sudah dua kali meluluhlantakkan hatiku
Yang pertama dengan rasa bahagia
Yang sekarang dengan kecewa
Kecewa karena pahit melihat orang lain yang memenangkanmu

Tapi, sembuh hanya soal waktu

Entah sampai kapan
Aku berharap semoga segera
Namun sepertinya, pada kenyataan mungkin butuh proses yang lama
Lama mungkin berarti selamanya

Semoga kemungkinan itu tak terjadi, aku tak mau harus terpuruk sendirian

Luka-ku pasti sembuh, harus secepatnya
Makin lama pasti hanya akan membuatku menahan siksa
Melihat kalian tak memikirkan lalu terus mesra
Tapi aku malah sendirian merana

SESAK!

Semakin lama aku memikirkanmu
Semakin larut aku terbawa kecewaku
Sesaknya makin terasa
Yang keluar berdampingan dengan air mata

(Depok: 03.32)

Kamu Hebat

Kamu adalah wanita yang paling hebat buatku
Setelah mengalir seenaknya di nadiku
Setelah menjadi debar jantungku
Kau secara mengejutkan telah bersama yang aku tak tau

(Depok: 01.34)

Singkat Namun Tertambat

3 bulan rupanya waktu yang cukup untukku jatuh hati padamu
Yaaa singkat memang, tapi aku yakin kamu telah masuk ke hatiku
Kamu masuk ke dalam celah hati paling dalam
Bagaimana cara mengeluarkanmu aku tak tahu jawabannya meski kucari sampai pagi berganti malam

Pada awalnya hariku amat menyenangkan setelah kenal denganmu
Di rumah, aku selalu memperhatikan layar ponselku
Sampai dini hari aku tenggelam
Aku tak ingin perasaanku padam

Aku jatuh hati padamu!

Kau merusak tatanan kehidupanku
Masuk dan mengobrakabrik hatiku
Aku senang
Waktu singkat tersebut akan terkenang

Terkenang?

Ya semuanya mulai sekarang hanya jadi kenangan
Tawamu juga candamu
Ceriamu juga sedihmu
Yang selalu kau bagi padaku kala itu

Saat aku telah jatuh hati, entah mengapa kau malah lari
Lari dengan sosok lelaki yang jauh lebih berarti
Setidaknya aku pernah merasakan bahagia dekatmu
Merasa ikut gembira dengan riang tawamu

Tidak banyak memang yang telah kuberikan padamu
Tapi setidaknya aku bersyukur pernah melakukan hal gembira denganmu
Ingatkah kamu saat kita menonton komedi?
Ingatkah kamu saat ku terpuruk dan kau peduli?

Aku masih ingin terus membuatmu bahagia
Membuatmu tertawa
Mebuatmu tertawa dengan canda dan cerita yang kupunya
Tapi aku tak bisa karena waktuku sudah habis

Sekarang saatnya orang lain yang membuatmu tertawa dan bahagia
Orang lain yang aku tak tau mulai kapan dia mendekatimu juga
Kau sangat merahasiakan dia rupanya
Sampai kala itu kau berubah, aku punya salah kukira

Ternyata bukan salah, aku hanya kalah

Untukmu, sayangku masih tersisa
Dan untuk kekasihmu, pasti dia sangat bahagia
Sekarang dan selamanya
Karena aku dapat dikalahkannya

Untuk bersanding denganmu

(Depok: 01.30)

Agustus 08, 2017

Sang Ikan Ingin Berkelana

Di langit, mentari mulai naik
Dari atas bukit, kulihat laut melirik
Dan di laut, di tepinya, ada kamu
Angin laut membelai manis kerudungmu

Laut seakan ingin memilikimu
Yang sepertinya belum juga ingin lepas dariku
Seperti laut yang takut kehilangan ikannya
Namun ikannya ingin terus berkenala

Ikan tetaplah ikan, tempatnya di laut
Tak munafik, ia nyaman dalam laut
Namun ia bersikeras meninggalkan
Ke tempat lain yang belum tentu membuatnya nyaman

Dan mentari makin terik
Makin tinggi
Pikiranku terus saja dihantui kekalutan sang ikan
Yang masih tak dapat menentukan

Riang ombak laut bergulung adalah bahagianya
Namun ia ingin ke air tenang yang dalam pikirnya menyimpan lebih banyak keriangan
Sang ikan terus saja kalut
Pikiranya masih saja berkabut

Sampai akhirnya ia lengah dalam pemikiran
Dan masuk dalam perangkap nelayan

(Garut: 09.21)

Tak Peduli, Aku Rindu

Lain hal, ini soal kau yang nun disana
Aku ingin melapor bahwa langit sedang butuh bintang malam ini
Dan aku adalah malam
Bintangku, kamu kemana kemarin dan kemarinnya lagi?

Lama rasanya tak membaca apalagi mendengar ceritamu
Sini, duduk dan ceritakan satu dongeng saja untukku
Bagaimana hari-harimu yang lalu?
Berkesan atau malah membuatmu pilu?

Mata kita tak dapat bertemu
Bolehkah aku berharap untuk esok atau esoknya lagi ku dapat melihatmu?
Untuk buat hariku lebih berwarna
Melihatmu adalah jawabannya kurasa

Ah, aku terlalu berharap rupanya
Aku harus apa? Aku bisa apa?
Selain mendoakan sang maha membalik hati manusia
Agar Dia bisa membuatmu mau denganku
Kurasa kau tidak akan bisa menolak kuasa-Nya

Untuk kau nun jauh disana:

Aku rindu
Tanpa peduli kau bagaimana padaku
Aku rindu
Tanpa peduli orang lain kan berkata apa padaku
Aku rindu, sampai mata kita setidaknya bertemu

(Garut: 23.19)

Agustus 07, 2017

Tentang Sebuah Memori

Ingatan kembali terulang
Seperti mesin waktu yang siap kapan saja berkenala
Kemana dan dengan siapa
Waktu kembali melanglang

Bom waktu siap meledak
Melempar segala sesak
Tentang kerinduan dan segala isak
Dan aku hanya bisa bersajak

Saat itu sebuah masa kelam
Tentang keraguan dan kebimbangan
Ketika mulai benderang
Malam ini langit kembali temaram

Sekali lagi membuatku meragu
Tentang segala perasaan pilu
Membuat degup kencang dadaku
Sekaligus bimbang pada pendirianku

Kau masih yang dulu
Tak pernah membuat sendu
Tapi aku tahu akan sesuatu
Kau terlalu baik, dan aku bukanlah untukmu

Manisku, cobalah mengerti
Tentang segala keresahan hati
Hati ini yang masih juga terus mencari
Seseorang yang kan mengisi hari-hari

Tengadahlah, purnama kan bersaksi
Kamu pantas untuk dapat yang lebih buatmu berarti

(Garut: 22.34 WIB)

Agustus 05, 2017

Selalu Saja (Jogjakarta: 22.15)

Sekuat apapun aku melawan, aku selalu saja.
Selalu saja menemukanmu, dalam pikiranku.
Selalu saja memikirkanmu, dalam tiap waktu.
Selalu saja ingin menulis, semua tentangmu.
Selalu, selalu saja. Dan akan tetap selalu.

"Mengapa?" Pikirku.

Ini selalu saja soalmu.
Perempuan yang datang dengan cara tak biasa.
Merusak tatanan kehidupanku.
Yang saat itu sangat biasa saja.

"Bagaimana bisa?" Batinku.

Kau datang dengan seenaknya.
Lalu menetap, dan ayolah, jangan pergi!
Pada hati ini, kau tinggal, semoga selamanya.
Dan ayolah, jangan seperti ini.

"Seperti apa?" Kau bingung.

Tak ada maksud membuatmu begini.
Aku rindu kamu. Kamu pada awal kedatangan.
Aku tetap sayang kamu, meski sikapmu seperti ini.
Dingin, dingin.... Dan sekarang perasaanku berantakan.

"Begitukah?" Ucapmu singkat.

Tetaplah dingin, itu hakmu.
Tetap sayang, itu hakku.
Hangatlah kembali, harapku.
Pergilah, mungkin itu harapmu.

"Dan kemungkinan itu, semoga tak benar."