Mei 29, 2017

Persimpangan

Sini dik, duduk dan ambil pelajaran dari kisahku. Maukah kau:

Kelinci itu sampai kembali di penghujung jalan
Berakhir pada persimpangan
Pada jalan yang pilihan harus ditentukan
Ini seperti kembali ke masa lalu, kepalanya dikuasai kenangan

Kemana ia harus melangkah?
Dahulu ia ke kanan lalu ke kiri lalu lurus
Dahulu ia labil tak dapat menentukan
Didapatnya kemudian kehancuran

Sekarang, ia harus mantap menetapkan pilihan!

Ketiga jalan tersebut sudah jelas apa yang ada diujungnya:
Kanan dengan taman bunga aneka warna tapi juga beracun
Kiri dengan sarang lebah paling lucu di dunia namun berbahaya
Dan di depannya adalah jurang kehampaan

Kemana kaki kelinci hendak menuju?

Kanan dan kiri mempunyai keterikatan, lebah tak bisa hidup tanpa bunga dan sebaliknya
Keduanya mengharap si kelinci untuk menetap
Kelinci ke kiri bunga akan mati tak berkembang karena terlalu enggan dihinggapi si lebah
Kelinci ke kanan lebah akan mati karena malas menghisap manisan si bunga

Persabatan penuh egois, kelinci semakin bingung kehilangan arah.

Ah, kelinci tidak pernah belajar dari masa lalu
Dia pernah terjebak pada situasi yang persis sama

Sampai sekarang, si kelinci masih di persimpangan, entah sampai kapan.

Mei 08, 2017

Oleh Senja Ku Dimaki

Aku berjalan di bawah hujan pada jelang malam.

Ketika air mulai tergenang dan suasana mulai temaram.

Semua sepakat menyebutnya senja.

Sebuah nama yang menawarkan segala yang dipunya.

Senja datang dengan anggunnya.
Dengan lembut tiap helai rambutku dielusnya.
Ada kebijakan dan kehangatan sekaligus, ku merasakannya.
Buaiannya memesona membuat nyaman siapa sahaja.

Pertanyaan timbul dalam perasaanku....

Musik latar belakangnya hanyalah dedaunan ditiup angin.
Kemesraan itu berlangsung beberapa waktu.
Guratan pada wajahnya tenang namun membuat merinding.

Tak ada yang bicara barang satu.

Tampak pada guratan itu adalah sebuah kebosanan. Ada apa?

Malam datang senja pulang.
Meninggalkan segudang pertanyaan di bawah hujan.
Dengan sadis ia sudah berhasil meluluhlantakkan.
Perasaanku dibuatnya berantakan berceceran tak karuan.

Besoknya ia datang kembali tanpa permisi.
Bukan kehangatan seperti biasa, senja tampil dengan api.
Tanpa ba-bi-bu aku langsungnya dimaki.
"Dasar kau idiot tanpa nurani!"

Setelah itu dia pergi lagi.....

Kepergiannya yang sekarang tidak ada pertanyaan.
Melainkan dalam batinku sebuah penyesalan.
Penyesalan paling mendalam insan tanpa nurani.
Ia adalah ia yaitu aku sendiri.

Ternyata senja adalah dia orangnya.
Yang memukul jatuh perasaan tak bersalahku.
Ternyata senja adalah dia orangnya.
Yang menyadarkanku:

Aku butuh "kertas" untuk "menulis".