Ohiya, buat 2017 nanti, Jakarta sebenarnya tak butuh gubernur baru.
Sama sepertiku, 2017 nanti,
Jakarta cuma butuh kamu jadi miliknya.
September 26, 2016
Kamu 4
September 25, 2016
Kamu 3
Kalau Indonesia ini indah, parasmu lebih
Kalau Indonesia menyenangkan, riangmu lebih
Kalau Indonesia menenangkan, senyummu lebih
Kalau Indonesia membuatku sayang padanya, kau tahu apa?
Tidak sayang padamu adalah pekerjaan sia-sia
Karena seberapapun aku berusaha
Aku akan selalu gagal
Siapasih dirimu? Brengsek.
Membuatku Repot memikirkan bagaimana
Bagaimana cara menaklukanmu
Yang sampai saat ini masih kokoh seperti Semeru
Kalau Indonesia dilanda banjir, air matamu lebih sedih buatku
Kalau Indonesia diserang angin topan, hembusan nafasmu lebih menakutkanku, jika berhenti
Kalau Indonesia dijajah koruptor, ah biar saja
Kalau Indonesia adalah negaraku, kau adalah semestaku.
September 12, 2016
Kamu 2
Kenapa aku tak pernah ingin berhenti menulis puisi yaaa?
Karena kamu masih hidup?
Dan hatiku belum mati untukmu?
Iya memang,
Puisiku selalu tentangmu.
September 11, 2016
Hai sayang
Hai sayang,
Ini hanya tentang kau.
Kau yang selalu menghantui mimpiku.
Tak pernah sekalipun ku bermimpi selain tentangmu.
Hai sayang,
Kau yang tak bisa kumiliki.
Karena aku yang tak berani.
Mengungkapkan isi hati.
Kenapa ya? Aku tak tau pasti.
Hai sayang,
Mungkin kau tak ingin ku hubungi.
Mungkin kau jengah pesan ku kirimi.
Hai sayang,
Itulah caraku untuk dekat denganmu.
Untuk merasakan nyamannya di dekatmu.
Kedekatan bukan soal saling bersama bagiku.
Tapi bertegur sapa juga indah buatku.
Hai sayang,
Kau yang mencintai orang lain.
Yang hatinya milik orang lain.
Hanya satu pintaku;
Saat aku menghubungimu,
Cobalah untuk tetap ramah denganku.
September 07, 2016
Sajak Sebatang Lisong (W.S. Rendra)
Menghisap sebatang lisong
Melihat Indonesia Raya
Mendengar 130 juta rakyat
Dan di langit
Dua tiga cukong mengangkang
Berak di atas kepala mereka
Matahari terbit
Fajar tiba
Dan aku melihat delapan juta kanak – kanak tanpa pendidikan
Aku bertanya
Tetapi pertanyaan – pertanyaanku Membentur meja kekuasaan yang macet
Dan papan tulis – papan tulis para pendidik
Yang terlepas dari persoalan kehidupan
Delapan juta kanak – kanak
Menghadapi satu jalan panjang
Tanpa pilihan
Tanpa pepohonan
Tanpa dangau persinggahan
Tanpa ada bayangan ujungnya
Menghisap udara
Yang disemprot deodorant
Aku melihat sarjana – sarjana menganggur
Berpeluh di jalan raya
Aku melihat wanita bunting
Antri uang pensiunan
Dan di langit
Para teknokrat berkata :
Bahwa bangsa kita adalah malas
Bahwa bangsa mesti dibangun
Mesti di up-grade
Disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
Gunung – gunung menjulang
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
Protes – protes yang terpendam
Terhimpit di bawah tilam
Aku bertanya
Tetapi pertanyaanku Membentur jidat penyair – penyair salon
Yang bersajak tentang anggur dan rembulan
Sementara ketidakadilan terjadi disampingnya
Dan delapan juta kanak – kanak tanpa pendidikan
Termangu – mangu di kaki dewi kesenian
Bunga – bunga bangsa tahun depan
Berkunang – kunang pandang matanya
Di bawah iklan berlampu neon
Berjuta – juta harapan ibu dan bapak
Menjadi gemalau suara yang kacau
Menjadi karang di bawah muka samodra
Kita mesti berhenti membeli rumus – rumus asing
Diktat – diktat hanya boleh memberi metode
Tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
Kita mesti keluar ke jalan raya
Keluar ke desa – desa
Mencatat sendiri semua gejala
Dan menghayati persoalan yang nyataInilah sajakku
Pamplet masa darurat
Apakah artinya kesenian
Bila terpisah dari derita lingkungan
Apakah artinya berpikir
Bila terpisah dari masalah kehidupan