Mei 08, 2017

Oleh Senja Ku Dimaki

Aku berjalan di bawah hujan pada jelang malam.

Ketika air mulai tergenang dan suasana mulai temaram.

Semua sepakat menyebutnya senja.

Sebuah nama yang menawarkan segala yang dipunya.

Senja datang dengan anggunnya.
Dengan lembut tiap helai rambutku dielusnya.
Ada kebijakan dan kehangatan sekaligus, ku merasakannya.
Buaiannya memesona membuat nyaman siapa sahaja.

Pertanyaan timbul dalam perasaanku....

Musik latar belakangnya hanyalah dedaunan ditiup angin.
Kemesraan itu berlangsung beberapa waktu.
Guratan pada wajahnya tenang namun membuat merinding.

Tak ada yang bicara barang satu.

Tampak pada guratan itu adalah sebuah kebosanan. Ada apa?

Malam datang senja pulang.
Meninggalkan segudang pertanyaan di bawah hujan.
Dengan sadis ia sudah berhasil meluluhlantakkan.
Perasaanku dibuatnya berantakan berceceran tak karuan.

Besoknya ia datang kembali tanpa permisi.
Bukan kehangatan seperti biasa, senja tampil dengan api.
Tanpa ba-bi-bu aku langsungnya dimaki.
"Dasar kau idiot tanpa nurani!"

Setelah itu dia pergi lagi.....

Kepergiannya yang sekarang tidak ada pertanyaan.
Melainkan dalam batinku sebuah penyesalan.
Penyesalan paling mendalam insan tanpa nurani.
Ia adalah ia yaitu aku sendiri.

Ternyata senja adalah dia orangnya.
Yang memukul jatuh perasaan tak bersalahku.
Ternyata senja adalah dia orangnya.
Yang menyadarkanku:

Aku butuh "kertas" untuk "menulis".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar