September 22, 2017

Aku Lelah

Aku lelah memikirkanmu
Aku lelah mengharapkanmu
Aku lelah merindukanmu
Aku lelah menulis soalmu

Namun tak banyak yang dapat kulakukan
Untuk melukiskan tiap perasaan
Selain menuangkan dalam ratusan tulisan
Karena.... aku sendirian

Tak seorangpun teman sependeritaan
Kalian melihatku selalu riang
Tapi aku sendirian
Kosong dan namamu selalu terngiang

Bak suara knalpot para pebalap
Aku sedang di lintasan balap
Suara tawamu berlarian
Mengitari tiap inci sirkuit pikiran

Aku tak akan berhenti disini
Sampai kau yang meminta untuk berhenti
Tapi aku berhak tidak memberi permintaanmu sama seperti hakmu tidak memilihku
Tulisanku adalah gelombang laut lepas yang siap menggulung sesiapa yang coba menasihati melupakanmu

Asaku akan terus tinggi
Harapku tak akan berhenti
Doaku agar kau cepat sendiri lagi
Maaf, semua telah terbang ke langit dan tak dapat diminta kembali

Kuharap kau dan Tuhan mau mengerti

(Depok: 01.48)

September 12, 2017

Sepuluh, Bulan Lalu

Pada angka ini pecah segala isak
Melutup segala sesak
Aku telah kalah
Yang kubisa lakukan hanyalah berserah

Namamu adalah lara
Sebuah rasa yang tak mungkin ada yang suka
Hari-hariku setelah sepuluh penuh denganmu
Yang kian hari kian menggebu

Ingatan siapa yang bisa melupa soal kesakitan?
Keadaan perpisahan dengan seorang incaran
Yang telah membuat kita berpikir bahwa dialah ciptaan yang sengaja turun untuk mengenalkan pada kita apa itu itu kasih
Membuat kita untuk tidak dapat beralih

Dan, sekaligus mengenalkan apa itu sebuah rasa tanpa deskripsi yang orang sebut: Sesak!

Setelah sepuluh semua rasa selain sesak luruh
Aku mati rasa!
Hancur bayangan sempurna soal semesta yang sempurna denganmu
Yang tersiksa hanya aku, hanya aku yang tersisa

Hadirmu yang singkat
Hadirmu yang sesaat
Menambat!
Lalu siapa yang dapat mengajarkan melupakan?

Ah! Semua ini siksaan!

Tatapmu yang menghangatkan
Senyummu yang melelehkan
Riangmu yang menyenangkan
Dan caramu pergi yang menghancurkan

Tiap sel dan partikel dalam tubuh ini
Mungkin kau harus tau sepuluh hal:

Satu sampai sembilan, aku mencintaimu
Sepuluh, aku akan tetap dan selalu mencintaimu
Bahkan untuk lebih lama dari selamanya!

(Depok: 10/09/17 02.37)

September 01, 2017

Mana Mungkin

Kalau kau bertanya kenapa aku masih saja tersedak kenangan bersamamu
Aku kiranya tak dapat memuaskan dahaga keingintahuanmu
Maafkan aku kalau itu mengganggumu
Akan kucoba sebisa mungkin untuk tak lagi memikirkanmu

Mana mungkin?
Sekarang aku balik tanya
Tahukah kamu aku memikirkanmu dan jumlahnya sama dengan detak jantungku?
Dan kamu sekarang sudah tau

Ah, hatiku ternyata memang sudah tertambat pada satu nama
Nama yang sering kuselipkan dalam doa
Isinya semoga kau mendapatkan bahagia yang tak semu
Dan, lengkung pelangi terbalik tak hilang dari bibirmu

(Depok: 04.07)

Sajak Bulan September

Akhirnya aku meninggalkan bulan itu. Yes!
Agustus dua ribu tujuh belas
Bulan yang katanya kemerdekaan namun aku terbelenggu kesenduan mendalam
Dan masuk bulan yang semoga tidak kembali kelam

Aku sebenarnya suka menikmati masa dimana aku bisa menyendiri seharian
Tanpa teman kecuali pena di tangan
Tapi ini september kawan
Kita harus bahagia dan penuh kesenangan!

Waktu terus bergulir
Melindas sesiapa yang diam tak mau minggir
Baiklah, kita harus menatap jalan di depan
Berlari meninggalkan sejuta kenangan

Sekali waktu silakan kamu menengok ke belakang
Namun kamu harus hati-hati sayang
Apa yang ada di belakang mengandung udara bertekanan rendah
Yang siap membuat dada sesak dan bisa saja mengeluarkan darah

Aku hanya mengajak, walaupun kamu pasti tak sudi
Menengok ke belakang seorang diri
Baiklah aku temani, tapi.......
Aku harus tau diri:

Kamu kan sudah punya kekasih

(Depok: 01.43)