November 01, 2016

Sajak Bulan November

Jika memang benar bulan ini bulan November.
Beritahu aku bahwa kau adalah masih kau yang dulu.
Yang kukenal hanya sekadar kukenal.
Beritahu aku bahwa akupun masih aku yang dulu.
Yaitu aku yang ingin mengenalmu lebih jauh.
Sampai sekarang.

Kopi, hujan, pagi, malam, tawa, juga pesan kita lewati.
Amat banyak tak terhitung.
Aku selalu mengingatnya.
Dengan cara itu aku berharap lebih mengenalmu.
Dengan mengingat semua obrolan kita lewat pesan.
Dengan meminum kopi yang masih panas.
Dengan tengadah ke langit, dan melihat awan membentuk rupamu.

Ah.......
Aku selalu mengucapkan selamat malam kepadamu, meskipun tak kau dengar.
Karena aku disini, di rumah ini, dan kau disana, di rumahmu.
Juga untuk selamat pagi.
Kalau semesta mendukungku, silakan.
Kalau semesta coba menghentikanku, kuhabisi mereka.
Aku mesti mencarimu kemana jika kau tidak membalas pesanku?
Bulan? Mars? Bandung? Atau jangan-jangan kau hanya sembunyi di nadiku?

Jika kau memang nyaman disana, tidurlah.
Saat bangun, kupastikan aku ada di sampingmu.
Aku adalah yang menjagamu ketika tidur.
Bahkan nyamukpun tidak akan berani mengusikmu.
Aku adalah alunan musik favoritmu.
Tidak pernah berhenti bermain sebelum kau terlelap dalam kelelahan.

Sajak ini hanya untukmu, juga keluargamu.
Semoga selalu dalam lindungan-Nya.
Lepaskan segala lelahmu. Kau harus bahagia sekarang.
Dengan atau tanpa aku.
Aku hanyalah lelehan air matamu.
Suara tertawamu, juga lelap tidurmu.
Tapi bukan hidupmu, bukan...

Kalau kau anggap aku berlebihan.
Memang benar. Itulah sebab lahirnya sebuah parabola.
Dan bulan ini, kalau aku boleh berlebihan yang amat sangat berlebihan, semesta adalah kamu.
Sangat berlebihan menyandingkan kamu hanya dengan sebuah semesta. Maaf.

Ah........
Bulan ini, bulan kita, aku, kamu, kau, saya, Tuhan.

-31 Oktober 2016, Mahdi Muhammad-

2 komentar: