Mei 28, 2015

Perempuan Harus Berani

Namanya Nahda, dipanggil seperti itu karena memang itulah namanya. Nahdatul Karimah. Gadis remaja kelahiran jakarta dan tinggal disana, bersama keluarga, anjing, dan semua perabotan rumah tangga. Sekarang dia telah berumur 17 tahun, 14 tahun lebih tua dibanding anjingnya. Dibalik wajah imutnya, tak ada yang tau bahwa dia gemar berpencak silat, kecuali ayahnya, ibunya, adiknya, dan tetangganya, juga semua yang tahu tentang itu. Dia menimba ilmu silatnya di perguruan Silat Si Rama-rama, perguruan silat paling terkemuka di daerahnya. Dia dipanggil Lady Mad Dog oleh kawan-kawannya. Dia tak keberatan, dan tetap rendah hati.
Ka Jeki, begitu dia akrab disapa, pemuda tangguh guru silat Si Rama-rama. Wajahnya yang tampan, dan sikapnya yang tak pernah sombong membuat Nahda jatuh hati,, namun dia tak tau pasti apakah Ka jeki sama seperti dengannya?
Suatu hari.......
"Ka, anterin aku pulang boleh? Hari ini aku tidak bawa motor"
"Kan emang kamu gapernah bawa motor, dik"
"hehehe becanda aku ka".. "boleh kan?"
"mana bisa sih kaka menolak ajakan gadis manis. Ayo naik!"
Orang tua Nahda bisa dibilang, orang tua yang toleran, dia yakin anaknya takkan melampaui batas, jadi menurutnya, sah-sah saja jika Nahda mau pacaran dengan gurunya itu.
"Mah, tadi aku dianterin pulang ka Jeki hehee"
"iiiih anak mama yaaaa udah dianterin cowo, papa aja dulu ga berani nganter mama pulang, cuma sampe depan gang"
"apasih kau ini ma? aku kan sering bilang aku antar sampai kamar, kau selalu bilang jangan". "Jeki itu sama seperti papa dulu. Pemberani. Bedanya papa tampan, dia biasa saja."
Nahda dan Mama: "hahahahahahaha dasar kau kepedean pah"
Di sekolah, karena Nahda gadis yang cukup cantik, banyak teman sekolahnya yang berusaha mendekatinya, dan selalu ditanggapi dengan baik olehnya. Bukan karena dia juga suka, karena dia tau rasanya diacuhkan itu menyakitkan.
"Nahda aku anter balik yuk"
"Maaf yaaa aku dijemput papa, lain kali mungkin" Senyum Nahda tak pernah hilang saat dia berhadapan dengan orang lain. Siapapun dia.
"Okedeh. Aku duluan yaaaa?" Ngeeeenggg....
Di lain sisi, sebenarnya Jeki amat menyukai Nahda, namun dia terlalu pengecut untuk mengungkapkannya. Bahkan menatap mata Nahda pun dia tak pernah berani lama. Paling hanya 2,5 detik
Latihan silat besok, Nahda sudah tidak sabar, karena dia ingin cepat-cepat bertemu ka Jeki. Dia baru saja berdikusi dengan mamanya.
"Mah, aku boleh ngomong?"
"Gaboleh"
"IIIsh mamamaaahh"
"Hehee lagian pake nanya, ngomong mah semua orang boleh, tua atau muda, kaya atau miskin, pria ataupun wanita"
"Okedeh mama cantik. Aku suka sama Ka Jeki."
"Mama dan papa sudah tau kok. Terus?"
"Menurut mama dia suka juga ga ke aku?"
"Kamu manis, tak mungkin dia tak suka kamu.". "Coba saja tanyakan kepadanya"
"Bertanya? Aku malu mah, akukan perempuan"
"Kalau kau malu, langsung saja ungkapkan perasaanmu ke dia"
"Akukan perempuan ma, masa aku yang ngomong duluan"
"Kenapa kalu perempuan? Perempuan juga berhak kok. Kaya yang tadi mama bilang, siapapun berhak,  tua atau muda, kaya atau miskin, bahkan pria ataupun wanita."
"Okedeh ma, besok akan kucoba."
Hari latihan.....

Perempuan Juga Berhak. - Mama Nahda, 37 tahun.

 

Salam, mahasiwa rangkap 2!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar