November 22, 2016

Tetaplah Ingat

Setiap pertemuan yang menelurkan perpisahan
Akan selalu terkenang selama hayat di badan
Jangan sedih bersiaplah tenang
Karena kata surayah: "Perpisahan tak menyakitkan,
Yang menyakitkan bila habis itu saling benci dan lupa"

Selamat tinggal yang selalu kau semogakan
Akan ku wujudkan mulai sekarang
Jangan marah oleh dirimu yang membuat semuanya jadi nyaman
Aku yang salah, aku yang membosankan.

Aku pernah membaca puisi paling sedih
Dimana seorang yang hanya mempunyai kata-kata
Namun tak pernah dibaca olehnya
Orang yang dicintainya

Perjalanan panjang baru dimulai
Namun sebentar telah selesai
Susunan acara yang telah direncanakan
Berantakan sirna semrawutan

Awan yang memayungi saat itu
Angin yang meniup
Juga jalanan tempat pijakan
Masih membekas di ingatan

Kalau mesin waktu benar ada
Berapapun harganya akan kubeli
Untuk apa, katamu
Berjaga-jaga kalau rindu, kataku

Silakan mulai sekarang kau senang dan bahagia
Yang harus kau lakukan hanya itu
Berkumpullah dengan temanmu
Bermainlah dengan peliharanmu

Anjing lucu yang siap tidak akan membosankanmu
Kucing kampung berbulu lembut menghangatkan
Juga ikan cupang yang siap membela dirinya juga dirimu
Dan harimau Sumatera yang sudah mulai menghilang

Ingatlah dan terus ingat
Kemarin, dan sekarang, besok lupa tak masalah.

November 16, 2016

Kau, si pembaca (2016)

Kejadian atau tidak
Setidaknya ku sudah mencobanya
Semampuku untuk jadi kita
Sekuat tenaga

Pergelutan untuk menjadi DKI-1 memang seru
Tapi tidak seseru pergelutan logika dan hatiku
Hati menginginkan jadi kita
Logika menjawab tidak akan pernah bisa

Kau memang berbeda dari yang sebelumnya
Sangat sulit dan teramat rumit
Mendapatkanmu adalah cita-cita
Meski kata orang: "orang yang kau anggap istimewa akan jadi biasa setelah kau dapatkan"
Tapi aku yakin, kau pengecualian

Jika semua yang ku lakukan adalah sia-sia
Ku tetap santai dan tenang
Kau sudah membaca semuanya
Isi hati dalam tiap tulisanku yang usang

Jika senyummu adalah kesalahan
Aku tak akan pernah membuat kau melakukan kebenaran!

November 08, 2016

Disamarkan 2

Semenjak dekat denganmu, aku tak lagi pandai berpuisi.
Karena yang kupikirkan adalah bukan lagi tentang kata
Tapi bagaimana cara membuatmu senang dan bahagia
Karena aku sadar, puisi takkan bisa selalu menyenangkanmu

Kadang gemuruh riuh puisi akan kalah
Dengan suara ibu yang lembut membangunkan ayah shubuhan
Kalah dengan merdunya pertemuan aspal jalan dengan rinai hujan
Dan kalah dengan riang tawamu, secara perlahan

Keheningan malam akan menjadi gemerlap
Merasuk seluruh hati yang lama terlelap
Kamulah keheningan malamku
Kamulah yang membangunkan hatiku, sekali lagi

Aku mohon, jangan kau nyanyikan lagu yang akan membuat hatiku tidur lagi
Sudah terlalu lama rasanya
Beri hatiku semangat beri dia gairah
Dan tetaplah dekat

Amat mengantuk dan terlelaplah
Tidurlah bersamaku
Dibawah malam, bintang, hujan dan keheningannya

November 01, 2016

Sajak Bulan November

Jika memang benar bulan ini bulan November.
Beritahu aku bahwa kau adalah masih kau yang dulu.
Yang kukenal hanya sekadar kukenal.
Beritahu aku bahwa akupun masih aku yang dulu.
Yaitu aku yang ingin mengenalmu lebih jauh.
Sampai sekarang.

Kopi, hujan, pagi, malam, tawa, juga pesan kita lewati.
Amat banyak tak terhitung.
Aku selalu mengingatnya.
Dengan cara itu aku berharap lebih mengenalmu.
Dengan mengingat semua obrolan kita lewat pesan.
Dengan meminum kopi yang masih panas.
Dengan tengadah ke langit, dan melihat awan membentuk rupamu.

Ah.......
Aku selalu mengucapkan selamat malam kepadamu, meskipun tak kau dengar.
Karena aku disini, di rumah ini, dan kau disana, di rumahmu.
Juga untuk selamat pagi.
Kalau semesta mendukungku, silakan.
Kalau semesta coba menghentikanku, kuhabisi mereka.
Aku mesti mencarimu kemana jika kau tidak membalas pesanku?
Bulan? Mars? Bandung? Atau jangan-jangan kau hanya sembunyi di nadiku?

Jika kau memang nyaman disana, tidurlah.
Saat bangun, kupastikan aku ada di sampingmu.
Aku adalah yang menjagamu ketika tidur.
Bahkan nyamukpun tidak akan berani mengusikmu.
Aku adalah alunan musik favoritmu.
Tidak pernah berhenti bermain sebelum kau terlelap dalam kelelahan.

Sajak ini hanya untukmu, juga keluargamu.
Semoga selalu dalam lindungan-Nya.
Lepaskan segala lelahmu. Kau harus bahagia sekarang.
Dengan atau tanpa aku.
Aku hanyalah lelehan air matamu.
Suara tertawamu, juga lelap tidurmu.
Tapi bukan hidupmu, bukan...

Kalau kau anggap aku berlebihan.
Memang benar. Itulah sebab lahirnya sebuah parabola.
Dan bulan ini, kalau aku boleh berlebihan yang amat sangat berlebihan, semesta adalah kamu.
Sangat berlebihan menyandingkan kamu hanya dengan sebuah semesta. Maaf.

Ah........
Bulan ini, bulan kita, aku, kamu, kau, saya, Tuhan.

-31 Oktober 2016, Mahdi Muhammad-