Setiap pertemuan yang menelurkan perpisahan
Akan selalu terkenang selama hayat di badan
Jangan sedih bersiaplah tenang
Karena kata surayah: "Perpisahan tak menyakitkan,
Yang menyakitkan bila habis itu saling benci dan lupa"
Selamat tinggal yang selalu kau semogakan
Akan ku wujudkan mulai sekarang
Jangan marah oleh dirimu yang membuat semuanya jadi nyaman
Aku yang salah, aku yang membosankan.
Aku pernah membaca puisi paling sedih
Dimana seorang yang hanya mempunyai kata-kata
Namun tak pernah dibaca olehnya
Orang yang dicintainya
Perjalanan panjang baru dimulai
Namun sebentar telah selesai
Susunan acara yang telah direncanakan
Berantakan sirna semrawutan
Awan yang memayungi saat itu
Angin yang meniup
Juga jalanan tempat pijakan
Masih membekas di ingatan
Kalau mesin waktu benar ada
Berapapun harganya akan kubeli
Untuk apa, katamu
Berjaga-jaga kalau rindu, kataku
Silakan mulai sekarang kau senang dan bahagia
Yang harus kau lakukan hanya itu
Berkumpullah dengan temanmu
Bermainlah dengan peliharanmu
Anjing lucu yang siap tidak akan membosankanmu
Kucing kampung berbulu lembut menghangatkan
Juga ikan cupang yang siap membela dirinya juga dirimu
Dan harimau Sumatera yang sudah mulai menghilang
Ingatlah dan terus ingat
Kemarin, dan sekarang, besok lupa tak masalah.