Januari 18, 2020

Alasan

Pergi bukanlah hal yang mudah.
Setelahnya,
Melihat ada orang lain sebagai alasannya tersenyum membuatku patah.
Seperti yang orang lihat, dia memang bahagiaku tapi aku bukan baginya.
Mungkin dahulu aku alasannya, tapi sekarang memang orang lain yang lebih membuatnya bahagia.

Oke, mari kita coba melupakannya.
Sulit, bukan berarti tak bisa.
Benar yang kuyakini, jam pasti akan terasa begitu lama.
Menghilangkan rasa padanya memang tak bisa dipaksa.

Sabar, aku yakin akan menemukan penggantinya.
Cepat atau lambat, lalu siapa?
Apa aku telah mati rasa karenanya?
Sedalam inikah luka yang diberikannya?

Pertanyaan ini mulai menemukan jawabnya,
Benarkah? Mari melupakannya, apakah kamu alasannya?

Lalu, kamu muncul begitu saja.
Kepadaku kau membawa luka.
Aku mulai memahamimu karena sepertinya kita punya sesuatu yang sama. Rasa yang sama.
Luka, hahaha luka? Dengan kadar yang berbeda

Aku mulai jatuh hati denganmu.
Dibuatku sedih dan marah ketika tangismu pecah disela ceritamu.
Aku mulai jatuh hati denganmu.
Sebuah klise saat dua orang yang terluka bertemu.

Malam itu dingin, lalu sandaranmu menghangatkan.
Setelahnya tak terlupakan.
Selalu terbayang dalam ingatan.
Meski beberapa detik, itu adalah sesuatu paling menyenangkan.

Apakah aku memanfaatkan kesedihanmu?
Dengan mencoba masuk ke hatimu yang sedang rapuh.
Pertanyaan itu tak pernah terbersit sedikitpun dalam benakku.
Kenapa bisa kamu berpikir aku orang seperti itu?

Semoga itu hanya pertanyaan yang terbersit begitu saja.
Kamu utarakan tanpa maksud apa-apa.
Kamu harus percaya.
Aku mencintaimu dengan sepenuhnya dan apa adanya.

Kita punya beberapa kesukaan yang sama.
Tak jarang pula kita berpikiran berbeda.
Tak masalah, itu akan baik jika kita bisa saling melengkapi.
Termasuk saling mengisi kekosongan hati.

Aku tak memaksa, aku hanya meminta: beri aku kesempatan untuk menemani prosesmu sebagai orang yang kau kasihi.

Catatan: Oh, dan ya! Aku tidak lagi memikirkan "dia" pada bait pertama dan kedua.