Agustus 26, 2016

Terkurung?

Terkurungku
Di tempat itu
Tempat berhantu
Sunyi selalu

Anjrit. Sendirianku
Menahan rasaku
Seperti peluru
Menghujam dadaku

Ah. Sialan kamu.
Kenapa kau seperti itu?
Tak pernah mengerti hatiku
Tanpa kuberi tahu

Aku ingin kau tahu
Bahwaku
Mencintaimu
Tanpa "aku cinta kamu"
Keluar dari mulutku

Ah. Bagaimana bisa seperti itu?

Ah. Terkurungku
Dalam rasa itu
Ketakutanku
Kepadamu

Agustus 17, 2016

17 Agustus

Kita tak tau pasti untuk apa memperingati perayaan 17an
Untuk mengenang kemerdekaan?
Untuk menghormati jasa para pahlawan
Atau untuk bersenang-senang karena penjajah telah pergi
Bagiku, Indonesia belum merdeka penuh
Kita hanya merdeka secara fisik
Batin kita masih dijajah

Ingatlah sayang, yang pergi bukan penjajah
Yang pergi hanyalah si asing
Tukang perintah tak berkemanusiaan
Tidak sadarkah kalian?
Sampai sekarang kita masih dijajah
Dijajah oleh bangsa sendiri

Coba tengok media-media pemberi informasi
Masih banyakkah para petinggi yang tidak menjajah rakyat?
Kalian harus ingat
Kita belum merdeka sayang
Sampai benar-benar tidak ada lagi yang kesulitan makan
Sampai benar-benar tidak ada lagi bayar mahal pendidikan
Sampai benar-benar tidak ada lagi para pengangguran
Semangat sayang, mari kita merdeka kan Indonesia kita!

Dirgahayu Indonesia ke-71!
(Subuh, 17 Agustus saat cuaca membuat malas ikut gerak jalan)

Agustus 11, 2016

Cinta (Soe Hok Gie)

Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berjudi di Miraza

Tapi aku ingin habiskan waktuku disisimu, sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu,
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

Tapi aku ingin mati disisimu, manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tau

Mari sini, sayangku

Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik, dan simpati padaku

Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung

Kita tak pernah menanam apa-apa

Kita tak pernah kehilangan apa-apa

( Selasa, 11 November 1969 )